Sabtu, 31 Januari 2015

Biografi Abdurrahman Wahid (Gus Dur) - Presiden Yang Dijatuhkan Parlemen


Biografi Abdurrahman Wahid (Gus Dur)"Presiden Yang Dijatuhkan Parlemen"
K.H Abdurrahman Wahid atau Gur Dur lahir pada 04 Agustus 1940 di Denanyar, Jombang. Ia adalah cucu dari KH Hasyim Asyari yaitu seorang pendiri Nahdhatul Ulama. Gus Dur menempuh pendidikan di Pesantren Tambak Beras Jombang pada tahun 1959 – 1963. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Departemen Studi Islam dan Aran Tingkat Tinggi Universitas Al-Azhar Kairo pada tahun 1964 – 1966. Tidak cukup di Universitas Al-Azhar Kairo saja, ia juga menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Baghdad pada tahun 1966 – 1970.
Karir Gus Dur terbilang cukup lama, mulai dari menjadi pengajar di pesantren hingga Dekan Fakultas Ushuludin Universitas Hasyim Asyari. Kemudian ia menjadi Ketua Balai Seni Jakarta pada tahun 1983 – 1985. Sebagai pendiri Pesantren Ciganjur dari tahun 1984 sampai sekarang. Kemudian sebagai Ketua Umum Nahdhatul Ulama pada tahun 1984 – 1999, sebagai Ketua Forum Demokrasi pada tahun 1990, kemudian Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia pada tahun 1994, Anggota MPR pada tahun 1999, dan suatu kehormatan pernah menjadi Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 1999 – 24 Juli 2001. Semua kegiatan dan aktivitas Gus Dur diapresiasi oleh banyak kalangan, termasuk yang terlihat dari Penghargaan Magsasay dari Pemerintah Filipina atas kerja kerasnya mengembangkan hubungan antar – agama di Indonesia pada tahun 1993 dan Penghargaan Dakwah Islam dari Pemerintah Mesir pada tahun 1991.
Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur adalah seorang negarawan yang dianggap controversial. Gus Dur sering menentang siapa saja yang ia anggap tidak sejalan dengannya, termasuk para pendukungnya sendiri dalam menyatakan sesuatu kebenaran. Ia merupakan tokoh Muslim yang berjiwa kebangsaan. Dengan posisinya ini membuat dirinya sering menentang politik keagamaan sectarian. Dari sikap – sikap ini lah yang sering kali menempatkannya pada posisi sulit dan bertentangan dengan para pemimpin Islam di Indonesia lainnya.
Sejak dulu, K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering mengkritisi pemerintah, termasuk pada masa Orde Baru. Sehingga pada saat itu menyebabkan Soeharto risih tak karuan. Puncak terjadinya kerisihan itu pada Muktamar NU di Cipasung pada tahun 1994. Pihak Pemerintah berusaha keras untuk menjegal Gus Dur namun tindakanya malah tidak menghasilkan apa – apa. Gus Dur malah tetap terpilih untuk periode kedua. Tanpa memandang bulu, Soeharto enggan menerima Gus Dur dan para pengurus – pengurus PBNU lainnya.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur), 

Selasa, 20 Januari 2015

Biografi Hanum Salsabiela Rais - Penulis Novel "99 Cahaya di Langit Eropa"





Nama       : Hanum Salsabiela Rais
TTL         : Yogyakarta, 12 April 1982
Pekerjaan : Jurnalis, Presenter di Trans TV, dan Penulis.
Pasangan  :
Rangga Almahendra
Contact     : hanumrais@gmail.com



Hanum Salsabiela Rais


Hanum Salsabiela Rais adalah putri dari pasangan Muhammad Amien Rais dan Kusnasriyati Sri Rahayu. Hanum lahir di kota Yogyakarta dan menempuh pendidikan dasar Muhammadiyah di Yogyakarta. Setelah Hanum menyelesaikan pendidikan dasarnya, ia pun melanjutkan kuliah di FKG UGM. Hingga Hanum mendapat gelar sebagai Dokter Gigi dari FKG UGM. Hanum mengawali karir sebagai jurnalis dan presenter di TRANS TV. Ia sangat menekuni pekerjaannya tersebut.

Awal mula Hanum memulai pengembaraannya di benua Eropa bersama suami yang memenangkan beasiswa dari Pemerintah Austria untuk studi S3 di WU Vienna. Hanum tinggal di Austria dengan suami tercintanya Rangga Al-mahendra. Kemudian Hanum bekerja di dalam proyek video podcast Executive Academy di WU Vienna selama 2 tahun. Dan Hanum juga tercatat sebagai koresponden detik.com bagi kawasan Eropa dan sekitarnya. Ia bekerja dengan sepenuh hati untuk berjuang di tanah Eropa dimana umat Muslim sebagai minoritas. Perjuangan yang tidak mudah untuk bertahan di negara yang Muslim sebagai kaum minoritas..

Pada tahun 2010, Hanum menerbitkan buku pertamanya, Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta. Sebuah novel biografi tentang kepemimpinan, keluarga dan mutiara hidup. Buku yang ia persembahkan untuk ayahnya tercinta. Buku yang mengisahkan tentang perjuangan Muhammad Amien Rais.

Kemudian p
ada tahun 2013, Hanum juga menerbitkan buku 99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa. Karya yang dibuat oleh Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra adalah sebuah buku istimewa. Buku ini adalah novel sejarah Islam di Eropa yang berbeda dengan karya – karya lain tentang pertemuan dan perbenturan Islam dengan Eropa. Suatu hal yang istimewa yang diraih oleh Hanum.

"Menurut saya, makna sebuah perjalanan harus lebih besar dari pada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw. dari Mekah ke Madinah. Umat Islam terdahulu adalah "traveler" yang tangguh." Tutur Hanum dalam novelnya 99 Cahaya di Langit Eropa.
Kata - kata di atas sangat bagus untuk dipraktekan oleh para traveler sebagai perjalanan yang penuh dengan makna. Menemuh perjalanan yang sekaligus meningkatkan derajat serta keimanan.

Banyak lagi karya - karya Hanum Salsabiela Rais, di antaranya: Menapak Jejak Amien Rais, 99 Cahaya di Langit Eropa, Bulan Terbelah di Langit Amerika, dan Berjalan di Atas Cahaya.












Referensi:

Senin, 19 Januari 2015

Biografi Andrea Hirata - Penulis Novel "Laskar Pelangi"


Nama Lahir : Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun
TTL            : Belitung, 24 Oktober 1976
Pekerjaan    : Penulis
Tahun Aktif  : 2006 – Sekarang



Andrea Hirata


Andrea Hirata lahir di sebuah desa yang miskin di pelosok pulau Belitung. Ia adalah anak ke-4 dari pasangan Seman Said Harunayah dan NA Masturah. Desa miskin yang kehidupan di dalamnya serba pas - pasan itu secara langsung sangat mempengaruhi kepribadian Andrea sejak kecil. Kepribadian Andrea terbentuk dari lingkungan yang memprihatinkan, sedih, penuh dengan rintangan hidup yang berat.

Sebenarnya nama Andrea Hirata itu bukan nama pemberian dari ibu dan bapaknya. Melainkan nama yang dibuat – buatnya sendiri. Nama sebenarnya yang diberikan oleh kedua orang tuanya adalah Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun. Andrea merasa tidak cocok dengan nama itu, kemudian ia menggantinya dengan nama Wadud. Nama Wadud ini masih gak cocok, hingga Andrea mengubah kembali namanya sebagai “Andrea Hirata” sewaktu meranjak remaja.

Ungkapan Andrea tentang namanya “Andrea diambil dari nama seorang wanita yang nekat bunuh diri bila penyanyi pujaannya, yakni Elvis Presley tidak membalas suratnya,”.
Kemudian kata Hirata dipungut dari nama melayu kampung (bukan nama Jepang yang orang anggap). Di masa meranjak remaja itulah, pria asal pulau Belitung itu mendapatkan nama yang cocok  “Andrea Hirata”. Andrea Hirata tumbuh bagai anak – anak melayu kampung pada umumnya. Ia tumbuh dengan segala keterbatasan ekonomi kampung, namun Andrea tetap menjadi anak yang bijak, periang, pembuat onar :D, dan penebar kegembiraan.


Dalam karya novel Andrea Hirata yaitu “Laskar Pelangi”, ia sewaktu kecil sekolah di tempat yang sangat memprihatinkan, mengenaskan, bahkan tak layak disebut sebagai sekolah. Sekolah tersebut adalah “SD Muhammadiyah”. Andrea mengakui bahwa sekolah tersebut sangat mengenaskan. Akan tetapi, berkat kegigihannya ingin belajar iapun bersekolah di tempat mengenaskan itu. Di sekolah itulah Andrea bertemu dengan “Laskar Pelangi” sebutan untuk sahabat – sahabat Andrea Hirata.

Disekolah itu pula lah, Andrea bertemu dengan sosok guru yang sangat istimewa. Guru tersebut bernama bu Muslimah. Kegigihan dan semangat bu Muslimah untuk mengajari murid – muridnya yang hanya berjumlah tidak lebih dari 11 orang. Andre Hirata mengaku bahwa bu Muslimah lah yang telah merubah Andrea menjadi sosok yang sangat bersemangat dalam menuntut ilmu.

Sebenarnya di pulau Belitung ada sekolah yang layak untuk Andrea masuki, namun karena keterbatasan ekonomi dan karena status bapak nya sebagai pegawai rendahan yang membuat Andrea tak berhak untuk sekolah di sana.
“Novel yang saya tulis merupakan memoar tentang masa kecil saya, yang membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang,”   

Itu lah ungkapan Andrea yang memberikan royalti untuk sekalah yang mengenaskan itu.

Banyak sekali rintangan yang dihadapi oleh Andre untuk bisa sekolah, mulai dari jarak sekolah yang sangat jauh, hingga keadaan sekolah yang sangat mengenaskan itu. Motivasi dari guru istimewanya itu lah yang terus ia pertahankan untuk tetap semangat menimbah ilmu.

Peran Bu Muslimah ini lah yang memotivasi Andrea untuk menulis. Hingga sewaktu kelas 3 SD ia bertekat untuk bisa menulis sebuah cerita tentang perjuangan bu Muslimah. Andrea pun tak pernah berhenti untuk berlatih nyorat - nyoret di kertas untuk bisa menulis.
“Kalau saya besar nanti, saya akan menulis tentang Bu Muslimah,”.  
Itu lah ungkapan Andrea Hirata yang akrab disebut "Ikal".
Seusai Andrea menempuh pendidikan di pulau Belitung kampung halamannya, ia kemudian bertekat untuk pergi dari kampung untuk merantau ke pulau Jawa. Setamat SMA, Andrea dengan keinginan yang kuat untuk menggapai cita – cita sebagai seorang penulis dan bisa melanjutkan pendidikan hingga ke bangku kuliah, ia pun merantau ke Jakarta.

Pada saat di kapal laut yang ia naiki, ia mendapat saran dari nahkoda untuk pergi ke daerah Ciputan dimana masyarakat setempat belum begitu ramai. Saran tersebut pun ia ikuti, dan ia naik bus untuk pergi ke Ciputan, namun al-hasil, bus tersebut malah mengantar Andre ke Bogor. Al-hasil, Andrea pun mau tak mau lantas memulai hidup baru di kota Bogor yang dikenal sebagai kota hujan.

Tak tau nasip baik apa yang terjadi pada Andrea, ia pun mendapat pekerjaan sebagai tukang pos (penyortir surat di kantor pos). Dengan segala kekuatannya, ia pun akhirnya bisa melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.

Setelah Andrea tamat dari Universitas Indonesia, ia berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa S2 Economic Theory di Universite de Paris, Sorbonne. Dengan segala tenaga dan kerja kerasnya, al-hasil ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, Inggris.


Novel Lasakar Pelangi Karya Andrea Hirata adalah satu - satunya Karya Sastra Indonesia yang tembus International Best Seller.
Karya - karya Andrea antara lain terlihat di gambar bawah ini:

























Referensi:

http://kolom-biografi.blogspot.com/2011/10/biografi-andrea-hirata-penulis-novel.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Andrea_Hirata